Jadikan Sastra Kepri Semakin Mendunia

Jadikan Sastra Kepri Semakin Mendunia

Gubernur Kepulauan Riau H Nurdin Basirun mengatakan dengan iven-iven akbar internasional seperti festival sastra ini dapat menjadikan Kepri semakin dikenal ke kancah dunia. Gaungnya jauh sampai dunia Eropa dari dulunya.

“Ini menjadikan Kepri terbentang luas dan semakin terkenal di dunia luar,” ujar Nurdin saat menghadiri Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, di Purna MTQ Teluk Bakau, Kabupaten Bintan, Kamis (29/11) malam.

Nurdin berharap, agenda seperti ini jangan sampai di sini saja, harus terus berkelanjutan. Sehingga bisa menjadi agenda tetamu dari negara-negara tetangga untuk menghadiri Festival Sastra tersebut.

“Bisa menjadikan patner negara tetangga untuk mengadakan festival keluar negeri, agar acara ini mendunia”, harap Nurdin.

Sementara itu, penggagas Festival Sastra Rida K Liamsi mengajak semua elemen agar bersama-sama menjaga sastra Gunung Bintan, karena besar sejarah tersebut sampai sekarang masih dikenang bahkan ke negara tetangga.

“Ini lah sumbangsih yang besar kalau digali. Mari kita jaga situs-situs sastra bersejarah ini, apa lagi perkembangan sekarang para penyair mulai berjalan menelusuri nya,” kata Rida.

Rida menyampaikan tema sastra ialah “Jejak Hang Tuah”, dengan diangkat tema inilah Bintan adalah Kota Laksemana. Laksemana tersebut ialah Hang Tuah.

“Kita berharap sejarah ini tidak akan pernah hilang di dunia, yang mana Hang Tuah berpetuah Bintan ‘tidak akan melayu hilang di bumi’, dengan kegiatan festival sastra ini”, lanjut Rida.

Rida berharap, kedepannya acara ini akan menjadi kegiatan tahunan. Supaya regenegrasi berkelanjutan seterusnya, maka takkan hilang sastra sejarah Hang Tuah di dunia.

“Nanti nya kita berharap kepada Pemkab maupun Provinsi untuk menganggarkan acara ini berkelanjutan, agar sampai anak cucu tak mengenal sejarah sastra Gunung Bintan” tutup Rida.

Penerima Budayawan/Seniman antara 10 nominator pada tahun 2018 didalam prosesi Anugrah Jembia Emas diterima oleh Datok DR Abdul Malik, M.Pd ditandai dengan pemasangan tanjak, tropi dan Uang Pembinaan Rp25 Juta.

Kemudian Peluncuran Buku Antologi Puisi Jazirah jejak Hang Tuah dalam Puisi. Dengan Antologi ini memang ingin Hang Tuah tetap hidup. Semangat dan jejaknya, fiksi maupun fakta. Tetaplah memberi makna dan semangat, bahwa dengan puisi dapat mengekalkan semua mimpi dan sikap baik menjadi nilai abadi.

Pada pembacaan puisi pertama oleh M Haji Saleh dari Malaysia dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Hoesnizar Hood, dan pembacaan puisi selanjutnya oleh penyair anak, Nabila Putri Akhyar. Pembaca puisi selanjutnya berasal dari Singapura ialah Ahmad Md Tahir, Taufik Ikram Jamil dari Riau, kemudian selanjutnya adalah Roslan Madun dari Malaysia. Puisi selanjutnya diisi Ramon Damora dan Hasan Aspahani.

Dalam kesempatan tersebut, Nurdin juga membacakan sebuah puisi dengan judul ‘Kau Kah Itu Tuah?’ Karya Rida K Liamsi dalam peluncuran buku puisi Jazirah. Adapun untaian kata dalam puisi yang dibacakan Nurdin tersebut adalah:

“Kau kah itu Tuah?
Kudengar Pintu berderit
Harum kasturi menembus kalbu
Masuklah!
Tapi jangan tinggalkan keris
Hati hati lantai terjungkit,
Sundang terbiase mencari lubang
Terkadang rindu tak sudah
Selalu mengundah padah”(jet)

Sharing berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.