Jaga Budaya, Jadi Jati Diri dan Kebanggaan

Jaga Budaya, Jadi Jati Diri dan Kebanggaan

Sekdaprov Kepri H TS Arif Fadillah mengatakan peran budaya bersama-sama dengan agama menjadi penting. Terutama sebagai dinding kokoh untuk menghindari berbagai efek yang tidak diinginkan dalam era modernisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat saat ini.

“Menjaga budaya itu berarti kita menjadikan budaya sebagai jati diri, maka masyarakat harus bangga dengan jati diri yang di miliki dalam menyongsong masa depan,” ujar Arif saat membuka pelatihan pembuatan tanjak di Aula Wan Seri Beni, kantor Gubernur, Pulau Dompak, Sabtu (4/8).

Selaku orang Melayu, dilanjutkan Arif tentu harus tau berbagai rekam sejarah yang dimiliki budaya melayu dengan beragam kekayaan. Masyarakat diharapkan mau untuk terus mempelajari jati dirinya ini dan tentu peran besar Lembaga Adat Melayu bersama Pemerintah untuk terus meningkatkan wawasan masyarakat terkait kebudayaan harus terus dilakukan.

“Kami Pemerintah mendukung setiap kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan wawasan terkait kebudayaan melayu ini dan tentu kerjasama bersama Lembaga Adat Melayu dalam hal ini sebagai rujukan dalam setiap kebijakan agar terarah,” lanjut Arif.

Salah satunya adalah pakaian yakni penggunaan tanjak. Berbagai macam versi dan model tanjak memiliki ciri khasnya masing-masing, apakah untuk digunakan sehari-sehari ataupun untuk digunakan dalam momen maupun acara tertentu.

Apalagi dewasa ini, penggunaan tanjak dalam kehidupan sehari-hari ditambahkan Arif semakin melejit. Ini dibuktikan dari Pemko Tanjungpinang yang dalam hari kerjanya (Jumat) menggunakan pakaian kurung melayu dengan tanjak.

“Ini menunjukan bahwa penggunaan tanjak kembali bangkit kepermukaan untuk menunjukan eksistensinya, semangat ini harus terus kita jaga dan tingkatkan, kedepan diharapkan akan ada lagi kegiatan lainnya seperti latihan membuat pantun dan membaca gurindam 12,” tambahnya lagi.

Tidak hanya soal berpakaian, menurut Arif budaya melayu juga mengajarkan tentang tata krama dan etika dalam kehidupan. Terlebih melayu tentu identik dengan islam tentu dalam berkehidupan akan tetap berpedoman dengan agama dan alquran.

“Tentu kita harus memujukan bahwa budaya melayu itu hadir tidak hanya memiliki kekhasan soal berpakaian, makanan dan lainnya. Namun yang mesti di tonjolkan adalah bagaimana tata krama yang baik dan etika yang santun dapat ditunjukan dalam kehidupan,” pungkas Arif.

Setelah pelatihan dibuka, acara selanjutnya dilakukan pemakaian tanjak oleh Pengurus Akademi Seni Tradisional Warisan Melayu Johan Iskandar bin Abdul Karim kepada Sekdaprov Arif. (Ald)

Sharing berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *