Pererat Silaturahmi Zuriat Daeng Marewah

Pererat Silaturahmi Zuriat Daeng Marewah

Ibu Hj Noor Lizah Nurdin Basirun menyambut baik upaya-upaya mempererat silaturahmi berbagai generasi Zuriat Daeng Marewa Ibnu Opu dari berbagai negeri. Pertemuan-pertemuan seperti ini sangat baik untuk mempersatukan dan mengenalkan berbagai generasi yang tersebar di berbagi negara di Asean.

“Ini menunjukkan bahwa keberagaman tidak menjadi halangan untuk mempersatukan sesama umat manusia melalui wadah PKZDMIO ini,” kata Noor Lizah saat menghadiri Majlis Pelancaran Perasmian Persatuan Kebajikan Zuriat Daeng Marewah Ibni Opu (PKZDMIO) Malaysia di Persiaran Kerabat Baha Gemilang, Batu Pahat, Johor, Malaysia, Sabtu (21/4).

Noor Lizah menghadiri majelis tersebut bersama Ketua TP PKK Kepri Hj Riawina. Hadir juga Ketua LAM Kepri H Abdul Razak dan beberapa pengurus LAM seperti H Mukmim, Nazaruddin, Rumzi Samin, M Ali Ahmad dan lainnya.

Selain zuriat Daeng Marewa, zuriat dari lima Opu Daeng lima bersaudara juga hadir. Mereka antara lain zuriat Daeng Parani, Daeng Manambon, Daeng Cellak, dan Daeng Kemasi.

Persatuan itu diresmikan oleh YTM Kebawah Kaus Dato Johan Pahlawan Lela Perkasa Setiawan Undang Luak Johol Negeri Sembilan Ke-15, Dato Undang Muhammed bin Hj. Abdullah.

Presiden PKZDMIO Dato Seri Dr Tg Dg Baha Ismail B Tg Dg Hj. Ahmad Al-Hajj menyebutkan, tujuan utama didirikannya persatuan ini adalah untuk selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat kebajikan kemanusiaan. Juga untuk mempererat tali persaudaraan zuriat Daeng Marewah yang ada di berbagai negeri di dunia ini.

“Kita harus bersiap diri menghadapi kemajuan zaman yang semakin hari semakin canggih,” kata Dato Baha Ismail.

Acara berlangsung penuh hikmat, megah dan meriah. Keturunan Daeng Marewa dari Indonesia, Malaysia dan Singapura tampak memenuhi peresmian itu. Dari Indonesia, keturunan dari Kalimantan Barat juga ikut hadir. Beragam kesenian, seperti kompang, musik tradisional ponorogo, atraksi silat, tarian-tarian tradisonal, marawis dan musik moderen ikut memeriahkan suasana.

Noor Lizah yang menjadi tamu kehormatan diminta bersama melepaskan balon sebagai tanda peresmian persatuan. Menurut Dato Ismail, pelepasan balon ke udara menandakan agar persatuan ini dapat terbang tinggi seluruh dunia.(sdq)

2 Komentar


  1. Naskah pembanding tentang sejarah Opu Lima bisa dicermati pada silsilah (stamboom) yang ditulis pada bulan januari 1955 oleh T.J. Willer, Residen Belanda yang dimuat dalam buku Bleeker et.al (1855) dalam Tidschrift voor Indische Tall Land en Volkenkunde pada halaman 411 dengan sub-judul “Stamboom der onderkoningen van Riouw”. Susunan silsilah dimulai dari yang paling atas adalah Raja Bone (Koning van Boni) lalu tingkatan berikutnya turun ke anak-anaknya yaitu Raja Bone (Koning van Bone) dan Upu Prins van Bone (Pangeran Bone) yang kemudian turun ke level berikutnya adalah Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I (paling kiri), lalu Daeng Parani (di tengah) dan Daeng Pali sebagai Yang Dipertuan Muda II (paling kanan). Generasi berikutnya adalah anak daeri Daeng Parani yaitu Daeng Kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III, kemudian anak dari Daeng Pali yaitu Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV lalu kembali ke anak Daeng Kamboja yakni Raja Ali sebagai Yang Dipertuan Muda Riau V. Setelah ini, keturunan Daeng Pali yang lanjut meneruskan trah Bugis Bone di Kerajaan Lingga Riau. Dalam buku Belanda lainnya tahun 1870 disebut nama Daeng Cella’ (Chelak) sebagai nama lain dari Daeng Pali. Baca lengkapnya di https://www.sapripamulu.com/2020/08/jejak-raja-bone-di-kerajaan-riau-lingga.html

    Balas

  2. Naskah pembanding tentang sejarah Opu Lima bisa dicermati pada silsilah (stamboom) yang ditulis pada bulan januari 1955 oleh T.J. Willer, Residen Belanda yang dimuat dalam buku Bleeker et.al (1855) dalam Tidschrift voor Indische Tall Land en Volkenkunde pada halaman 411 dengan sub-judul “Stamboom der onderkoningen van Riouw”. Susunan silsilah dimulai dari yang paling atas adalah Raja Bone (Koning van Boni) lalu tingkatan berikutnya turun ke anak-anaknya yaitu Raja Bone (Koning van Bone) dan Upu Prins van Bone (Pangeran Bone) yang kemudian turun ke level berikutnya adalah Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I (paling kiri), lalu Daeng Parani (di tengah) dan Daeng Pali sebagai Yang Dipertuan Muda II (paling kanan). Generasi berikutnya adalah anak daeri Daeng Parani yaitu Daeng Kamboja sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III, kemudian anak dari Daeng Pali yaitu Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV lalu kembali ke anak Daeng Kamboja yakni Raja Ali sebagai Yang Dipertuan Muda Riau V. Setelah ini, keturunan Daeng Pali yang lanjut meneruskan trah Bugis Bone di Kerajaan Lingga Riau. Dalam buku Belanda lainnya tahun 1870 disebut nama Daeng Cella’ (Chelak) sebagai nama lain dari Daeng Pali. Baca lengkapnya di https://www.sapripamulu.com/2020/08/jejak-raja-bone-di-kerajaan-riau-lingga.html

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.